Karbon dalam Ekosistem Mangrove di Indonesia: Potensi, Peran, dan Tantangan Pengelolaannya

Karbon dalam Ekosistem Mangrove di Indonesia: Potensi, Peran, dan Tantangan Pengelolaannya

Oleh. T. Rubby Irfansyah, SHI, M.Hum

Pendahuluan

Perubahan iklim merupakan salah satu persoalan lingkungan paling serius yang dihadapi dunia saat ini. Peningkatan konsentrasi gas rumah kaca, terutama karbon dioksida (CO₂), menyebabkan peningkatan suhu bumi dan berbagai perubahan pada sistem iklim. Dalam konteks tersebut, ekosistem pesisir memiliki peranan penting karena mampu menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar. Salah satu ekosistem pesisir yang memiliki kemampuan tersebut adalah hutan mangrove.

Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis dalam pengelolaan karbon biru (blue carbon) karena memiliki kawasan mangrove yang sangat luas. Data Bank Dunia menyebutkan bahwa Indonesia memiliki sekitar 3,4 juta hektare mangrove dan mencakup lebih dari 20 persen kawasan mangrove dunia. Ekosistem tersebut juga menyimpan sekitar 3,14 miliar ton CO₂ dalam bentuk karbon biru.¹

Karbon dalam ekosistem mangrove tidak hanya tersimpan pada batang, cabang, daun, dan akar tumbuhan, tetapi juga dalam jumlah besar pada sedimen di bawahnya. Kondisi inilah yang menjadikan mangrove berbeda dari banyak ekosistem daratan dan membuatnya penting dalam strategi mitigasi perubahan iklim.

Mangrove sebagai Ekosistem Karbon Biru

Istilah karbon biru merujuk pada karbon yang diserap dan disimpan oleh ekosistem laut dan pesisir, terutama mangrove dan padang lamun. Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), biomassa dan sedimen pada ekosistem mangrove dan lamun dapat menyimpan karbon beberapa kali lebih besar dibandingkan vegetasi daratan.²

Proses penyimpanan karbon pada mangrove dimulai melalui fotosintesis. Tumbuhan mangrove menyerap CO₂ dari atmosfer dan mengubahnya menjadi bahan organik. Sebagian karbon tersebut digunakan untuk pertumbuhan batang, daun, dan akar. Ketika bagian tumbuhan mati dan jatuh ke permukaan tanah, material organik kemudian terakumulasi dan sebagian tersimpan dalam sedimen.

Lingkungan mangrove yang tergenang secara berkala oleh air laut menyebabkan kondisi sedimen relatif rendah oksigen. Kondisi tersebut dapat memperlambat proses penguraian bahan organik sehingga karbon dapat tersimpan dalam sedimen dalam waktu yang panjang.

Dengan demikian, kemampuan mangrove dalam mitigasi perubahan iklim tidak hanya ditentukan oleh jumlah pohon yang hidup di atas permukaan tanah, tetapi juga oleh kondisi dan kedalaman sedimennya.

Besarnya Simpanan Karbon Mangrove Indonesia

Besarnya karbon yang tersimpan dalam mangrove berbeda-beda antara satu lokasi dengan lokasi lainnya. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh jenis mangrove, ukuran dan umur pohon, kerapatan vegetasi, karakteristik sedimen, salinitas, serta kondisi lingkungan.

Penelitian di beberapa kawasan mangrove Sulawesi Utara menunjukkan variasi simpanan karbon yang cukup besar. Di Ratatotok, simpanan karbon tercatat sekitar 343,85 Mg C/ha; di Pulau Lembeh 254,35 Mg C/ha; di Kema 387,95 Mg C/ha; dan di Sangihe mencapai 594,83 Mg C/ha. Lebih dari 59 persen simpanan karbon pada lokasi-lokasi tersebut berada di dalam sedimen.³

Temuan tersebut menunjukkan bahwa sedimen merupakan komponen yang sangat penting dalam penghitungan karbon mangrove. Oleh sebab itu, perlindungan mangrove tidak cukup hanya dengan mempertahankan pohon yang berada di permukaan, tetapi juga harus menjaga agar sedimen yang menyimpan karbon tidak terganggu.

Penelitian lain di Muara Gembong, Teluk Jakarta, memperkirakan rata-rata biomassa mangrove sebesar 258,81 Mg/ha dengan kandungan karbon sekitar 119,97 Mg C/ha. Kerusakan akibat tekanan antropogenik, abrasi, hama, dan sampah dapat mengurangi fungsi ekologis kawasan tersebut.⁴

Sementara itu, penelitian pada mangrove pesisir utara Kabupaten Cirebon yang dilakukan pada 2025 menunjukkan bahwa kandungan karbon sangat dipengaruhi oleh jenis mangrove, diameter batang, umur vegetasi, serta karakteristik sedimen.⁵

Sedimen: Gudang Karbon Mangrove

Salah satu keistimewaan ekosistem mangrove adalah kemampuannya menyimpan karbon dalam sedimen. Karbon yang berasal dari daun, akar, ranting, dan organisme lainnya dapat tertimbun di dasar ekosistem mangrove dan tersimpan dalam waktu yang panjang.

Hal ini membuat kerusakan mangrove menjadi persoalan yang lebih kompleks. Ketika mangrove ditebang atau kawasan pesisir dikonversi menjadi tambak, permukiman, industri, atau penggunaan lainnya, bukan hanya vegetasinya yang hilang. Sedimen yang selama bertahun-tahun menyimpan karbon juga dapat mengalami gangguan.

Penelitian yang membandingkan kawasan mangrove alami dengan kawasan yang pernah mengalami alih fungsi menunjukkan bahwa kawasan yang telah terdegradasi memiliki simpanan karbon yang lebih rendah. Pada kawasan alami yang diteliti, simpanan karbon berada pada kisaran 427,54–606,92 Mg C/ha, sedangkan kawasan rehabilitasi yang pernah mengalami alih fungsi memiliki kisaran 94,92–265,26 Mg C/ha.⁶

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa mencegah kerusakan mangrove pada dasarnya juga merupakan tindakan untuk menjaga karbon yang telah tersimpan di dalam ekosistem.

Mangrove dan Mitigasi Perubahan Iklim

Mangrove mempunyai dua fungsi utama dalam konteks perubahan iklim. Pertama, mangrove menyerap CO₂ melalui proses fotosintesis. Kedua, mangrove menyimpan karbon dalam biomassa dan sedimen sehingga karbon tidak langsung kembali ke atmosfer.

Karena itu, konservasi mangrove dapat menjadi salah satu strategi mitigasi perubahan iklim berbasis alam (nature-based solution). Pemerintah Indonesia juga semakin menempatkan karbon biru sebagai bagian dari kebijakan iklim nasional.

Pada 2026, KKP menyatakan bahwa Indonesia sedang memperkuat implementasi Rencana Aksi Nasional Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Karbon Biru 2025–2030. Rencana tersebut diarahkan untuk melindungi dan memulihkan ekosistem mangrove serta padang lamun sekaligus memperkuat kontribusinya terhadap penurunan emisi gas rumah kaca.⁷

KKP pada April 2026 juga memproyeksikan bahwa ekosistem karbon biru Indonesia yang bersumber dari mangrove dan padang lamun berpotensi menyerap sekitar 10 juta ton CO₂ ekuivalen per tahun.

Ancaman terhadap Karbon Mangrove

Potensi penyimpanan karbon yang besar tidak berarti mangrove bebas dari ancaman. Sebaliknya, kawasan mangrove di Indonesia menghadapi berbagai tekanan, seperti konversi lahan, pembangunan pesisir, pertambakan, pencemaran, penebangan, abrasi, dan perubahan kondisi lingkungan.

Kerusakan mangrove memiliki konsekuensi ganda. Pertama, kemampuan ekosistem untuk menyerap karbon baru menjadi berkurang. Kedua, karbon yang sebelumnya tersimpan dalam biomassa dan sedimen berpotensi dilepaskan kembali ke lingkungan.

Dengan kata lain, mangrove yang rusak bukan hanya kehilangan fungsi sebagai penyerap karbon, tetapi juga dapat menjadi sumber emisi apabila karbon yang tersimpan mengalami pelepasan.

Karena itu, pendekatan pengelolaan mangrove seharusnya tidak hanya berorientasi pada penanaman pohon baru. Perlindungan terhadap mangrove yang masih sehat merupakan langkah yang sangat penting karena karbon yang sudah tersimpan selama puluhan bahkan ratusan tahun tidak dapat digantikan secara cepat hanya dengan menanam bibit baru.

Konservasi dan Restorasi Mangrove

Upaya menjaga karbon mangrove di Indonesia dapat dilakukan melalui tiga pendekatan utama.

Pertama, konservasi, yaitu mempertahankan kawasan mangrove yang masih dalam kondisi baik. Konservasi penting karena mangrove alami memiliki cadangan karbon yang sudah terbentuk dalam waktu lama.

Kedua, restorasi, yaitu mengembalikan fungsi ekosistem mangrove yang mengalami kerusakan. Restorasi harus dilakukan berdasarkan karakteristik ekologis lokasi. Penanaman mangrove tidak seharusnya hanya mengejar jumlah bibit, tetapi juga mempertimbangkan kesesuaian jenis, hidrologi, sedimen, salinitas, dan kondisi pasang surut.

Ketiga, pengelolaan berbasis masyarakat. Masyarakat pesisir merupakan pihak yang berhubungan langsung dengan ekosistem mangrove. Karena itu, perlindungan mangrove perlu melibatkan masyarakat melalui pengembangan ekonomi yang tidak merusak ekosistem, seperti perikanan berkelanjutan, ekowisata, serta pemanfaatan hasil mangrove secara terbatas dan bertanggung jawab.

Karbon Mangrove dan Nilai Ekonomi

Selain mempunyai nilai ekologis, karbon mangrove juga memiliki potensi ekonomi. Karbon yang tersimpan dalam ekosistem dapat menjadi bagian dari instrumen ekonomi karbon apabila memenuhi standar pengukuran, pelaporan, verifikasi, dan tata kelola yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sebagai contoh, penelitian di Kecamatan Kema, Sulawesi Utara, memperkirakan rata-rata simpanan karbon mangrove sebesar 133,76 ± 25,70 Mg C/ha. Penelitian tersebut juga menghitung potensi nilai ekonomi dari simpanan karbon berdasarkan skenario pasar tertentu.⁹

Namun, nilai ekonomi karbon seharusnya tidak menjadi satu-satunya alasan untuk melindungi mangrove. Mangrove mempunyai berbagai jasa ekosistem lain, seperti melindungi pantai dari abrasi, menjadi habitat ikan dan biota laut, mendukung mata pencaharian masyarakat, serta menjaga kualitas lingkungan pesisir.

Oleh karena itu, karbon sebaiknya ditempatkan sebagai salah satu komponen dari nilai keseluruhan ekosistem mangrove.


Tantangan Pengelolaan Karbon Mangrove di Indonesia

Tantangan terbesar dalam pengelolaan karbon mangrove adalah memperoleh data yang akurat dan konsisten. Pengukuran karbon harus memperhatikan biomassa di atas permukaan, biomassa bawah permukaan, serasah, serta karbon organik dalam sedimen.

Selain itu, setiap kawasan memiliki karakteristik ekologis yang berbeda. Oleh karena itu, angka stok karbon dari satu lokasi tidak dapat begitu saja digunakan untuk menggambarkan seluruh mangrove Indonesia.

Tantangan lainnya adalah memastikan bahwa proyek karbon benar-benar memberikan manfaat ekologis dan sosial. Program karbon mangrove harus menghindari praktik greenwashing, memastikan hak masyarakat pesisir, serta menjamin bahwa perlindungan dan restorasi benar-benar menghasilkan tambahan manfaat iklim yang dapat dibuktikan.

Dengan demikian, pengembangan karbon biru perlu didukung oleh data ilmiah, transparansi, pengawasan, dan keterlibatan masyarakat.

Kesimpulan

Mangrove Indonesia merupakan salah satu aset ekologis penting dalam menghadapi perubahan iklim. Ekosistem ini mampu menyerap CO₂ melalui fotosintesis dan menyimpan karbon dalam biomassa maupun sedimen. Indonesia memiliki sekitar 3,4 juta hektare mangrove dan merupakan salah satu negara dengan ekosistem mangrove terbesar di dunia.¹⁰

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa jumlah karbon yang tersimpan dalam mangrove dapat mencapai ratusan megagram karbon per hektare, dengan sedimen sering kali menjadi komponen penyimpanan yang sangat besar. Karena itu, kerusakan mangrove tidak hanya menyebabkan hilangnya vegetasi, tetapi juga dapat mengganggu cadangan karbon yang telah terakumulasi dalam sedimen.

Pengelolaan mangrove Indonesia perlu diarahkan pada prinsip melindungi yang masih baik, memulihkan yang rusak, dan mengelola secara berkelanjutan. Konservasi mangrove bukan sekadar program penghijauan pesisir, tetapi merupakan bagian dari strategi mitigasi perubahan iklim, perlindungan keanekaragaman hayati, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Pada akhirnya, menjaga mangrove berarti menjaga salah satu “bank karbon” alami Indonesia. Semakin baik mangrove dipertahankan, semakin besar peluang Indonesia untuk mempertahankan karbon yang telah tersimpan sekaligus meningkatkan kemampuan ekosistem pesisir dalam menyerap karbon di masa depan.


Catatan: Saya membedakan istilah stok/simpanan karbon (karbon yang sudah tersimpan dalam ekosistem) dengan penyerapan karbon (karbon yang diambil dari atmosfer dalam suatu periode). Keduanya sering tercampur dalam tulisan tentang mangrove, padahal secara ilmiah berbeda.
APA: Irfansyah, TR., "Karbon dalam Ekosistem Mangrove di Indonesia: Potensi, Peran, dan Tantangan Pengelolaannya", in KABIRA, (Medan: Yayasan Konservasi Biru Hijau, 2026).